Mimbar Jumat: Rasa Malu yang Hilang
Pembuka dan Hakikat Rasa Malu dalam Islam
Tribunnews8.com, Jamaah salat Jumat yang dirahmati Allah, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dalam ajaran Islam, rasa malu (al-haya’) bukanlah sekadar emosi manusiawi biasa, melainkan bagian utama dari fondasi keimanan. Rasulullah SAW menegaskan bahwa malu dan iman adalah dua hal yang saling terikat erat; jika salah satunya hilang, maka yang lainnya pun akan ikut lenyap. Rasa malu berfungsi sebagai benteng spiritual yang menjaga martabat seorang muslim agar tetap berada dalam koridor akhlak mulia.
Fenomena Memudarnya Rasa Malu di Zaman Modern
Namun, jika kita mencermati kondisi masyarakat hari ini, fenomena hilangnya rasa malu kian marak terjadi. Dosa dan kemaksiatan yang dahulu dilakukan secara tersembunyi, kini justru dipamerkan secara terbuka tanpa rasa canggung di ruang-ruang publik maupun media sosial. Perilaku menyimpang, kata-kata kotor, hingga kebohongan sering kali dianggap sebagai hal yang biasa atau bahkan kebanggaan demi mengejar popularitas dan materi. Fenomena ini menjadi sinyal bahaya akan pudar dan tumpulnya kepekaan hati nurani umat.
Dampak Buruk Hilangnya Rasa Malu
Ketika rasa malu telah sirna dari dalam dada, seseorang akan kehilangan kepekaan diri dan tidak lagi peduli pada batas-batas syariat. Rasulullah SAW bersabda, “Jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu.” Hadis ini menjadi peringatan keras bahwa hilangnya rasa malu adalah pintu gerbang menuju kehancuran moral. Tanpa rasa malu, kezaliman akan merebak, hak orang lain akan dirampas tanpa penyesalan, dan kehormatan diri maupun keluarga akan dikorbankan demi kepuasan nafsu sesaat.
Menumbuhkan Kembali Malu Kepada Allah dan Sesama
Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk menghidupkan kembali rasa malu, terutama malu kepada Allah SWT. Malu kepada Allah berarti menjaga pikiran dari hal-hal yang haram, menjaga perut dari makanan yang syubhat dan haram, serta mengingat akan datangnya kematian dan hari pembalasan. Selain itu, kita juga harus menumbuhkan rasa malu kepada sesama manusia dengan cara menjaga lisan, menutup aurat, menjaga pandangan, serta menjauhi perilaku yang dapat merusak tatanan sosial dan norma kebaikan.
Penutup dan Doa Harapan
Sebagai penutup, marilah kita jadikan momentum salat Jumat ini untuk bermuhasabah dan memperbaiki diri. Mari kita bentengi diri dan keluarga kita dari fitnah akhir zaman dengan terus memelihara rasa malu sebagai hiasan akhlak. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing hati kita, menguatkan iman kita, serta menjaga kita dari sifat tak acuh dan hilangnya rasa malu, sehingga kita tergolong sebagai hamba-hamba-Nya yang selamat di dunia dan di akhirat. Amin ya Rabbal ‘Alamin.







