Viral Masjid di Klaten Beralih Fungsi Jadi Dapur MBG, Pemdes Sebut Lahan Milik Yayasan

Berita91 Dilihat

​Tribunnews8.com, Sebuah unggahan media sosial mendadak viral usai memperlihatkan sebuah bangunan masjid di Desa Karanganom, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, dialihfungsikan menjadi dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam rekaman yang beredar, ruang yang biasanya digunakan untuk tempat sujud dan kegiatan ibadah warga serta santri tampak dipenuhi perlengkapan memasak dan alat operasional dapur. Sontak, alih fungsi bangunan ibadah tersebut memicu beragam reaksi keras serta sorotan tajam dari warganet dan masyarakat sekitar.

​Menanggapi gejolak sosial tersebut, Pemerintah Desa (Pemdes) Karanganom memberikan klarifikasi terkait status kepemilikan bangunan. Kepala Desa Karanganom, Abdul Aziz, bersama Sekretaris Desa, Tri Mulyanto, menyatakan bahwa tanah dan bangunan yang digunakan sebagai dapur SPPG tersebut bukanlah aset milik desa, melainkan milik sebuah yayasan swasta pengelola pondok pesantren lokal. Oleh karena itu, Pemdes menegaskan tidak memiliki kewenangan secara hukum untuk membendung ataupun menentukan penggunaan lahan tersebut.

​Meski tak memiliki otoritas penuh, pihak Pemdes Karanganom mengaku telah memberikan teguran dan masukan kepada pengelola yayasan sejak awal rencana perubahan fungsi tersebut. Pemdes menyampaikan bahwa mengalihfungsikan tempat ibadah menjadi fasilitas operasional dapur dinilai kurang pas dan berpotensi menimbulkan keresahan di tengah warga. Namun, masukan serta Imbauan dari Pemdes tidak digubris, sehingga pihak yayasan tetap melanjutkan operasional penyediaan MBG di lokasi bangunan tersebut.

​Dari sisi historis dan pemanfaatan sosial, bangunan yang berada di kawasan pendidikan agama tersebut sebelumnya difungsikan untuk aktivitas pembelajaran santri sekaligus tempat ibadah rutin masyarakat sekitar. Warga setempat mengekspresikan rasa kecewa karena ruang publik keagamaan yang biasa mereka gunakan mendadak tertutup untuk ibadah dan berubah menjadi area produksi masakan. Perubahan ini pun memicu tensi hangat di tingkat tapak karena minimnya dialog antara yayasan dengan warga pengguna masjid.

​Sementara itu, gelombang kritik terus memanjat di media sosial, di mana netizen menyayangkan dikorbankannya tempat suci demi operasional program. Hingga kini, aktivitas dapur SPPG di Karanganom dilaporkan masih berjalan untuk menyokong distribusi program MBG di wilayah sekitar. Publik dan warga sekitar masih menantikan iktikad baik serta ketegasan pengelola yayasan untuk mengembalikan fungsi utama tempat ibadah guna meredam polemik yang berkembang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *