Tribunnews8.com, TOKYO – Perusahaan pembuat motor asal Jepang, Nidec Corp., mengungkap temuan mengejutkan setelah investigasi internal menemukan 844 kasus pelanggaran terkait pengendalian kualitas yang terjadi selama sekitar satu dekade. Temuan tersebut diumumkan perusahaan pada Jumat (4/9/2026).
Kasus yang ditemukan antara lain perubahan bahan dan proses produksi tanpa persetujuan. Investigasi juga menemukan dugaan pemalsuan hasil pengujian produk serta informasi pelabelan yang tidak benar, termasuk mengenai asal produk.
CEO Nidec, Mitsuya Kishida, menyampaikan permintaan maaf kepada investor, perusahaan grup, pelanggan, dan masyarakat. Ia mengatakan perusahaan akan melakukan peninjauan dan memperbaiki sistem pengendalian kualitas secara menyeluruh.
Skandal tersebut menjadi sorotan karena Jepang selama ini dikenal memiliki reputasi tinggi dalam hal kualitas manufaktur. Kasus Nidec berpotensi menimbulkan pertanyaan mengenai pengawasan internal dan standar produksi perusahaan Jepang.
Sementara itu, berita ekonomi Jepang juga menjadi perhatian setelah nilai yen mulai menguat sekitar 2% dalam sepekan, sementara pasar memperkirakan Bank of Japan (BOJ) akan menaikkan suku bunga. Pergerakan tersebut dapat memengaruhi ekspor Jepang dan pasar keuangan global.







