Tribunnews8.com, Ketebalan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) semakin memperburuk jarak pandang para pengguna jalan di sejumlah jalur utama wilayah Kalimantan. Kepulan asap pekat yang menyelimuti kawasan pemukiman hingga jalan lintas antarkota membuat visibility pengendara menurun drastis, hingga hanya tersisa kurang dari 10 hingga 50 meter pada jam-jam kritis pagi dan sore hari.
Kondisi terparah dilaporkan terjadi di sepanjang ruas Jalan Trans Kalimantan serta lintasan penghubung antarprovinsi, di mana bau menyengat dan pekatnya asap gambut kerap memicu kecelakaan lalu lintas. Menurunnya batas pandang memaksa para sopir angkutan barang dan kendaraan pribadi memperlambat laju kendaraan serta menyalakan lampu hazard dan klakson secara berkala guna menghindari benturan.
Dampak dari terbatasnya jarak pandang ini memicu lonjakan angka insiden lalu lintas di beberapa titik rawan. Pihak kepolisian lalu lintas setempat mencatat adanya peningkatan beruntun kasus kecelakaan jalan raya, mulai dari tabrakan sesama kendaraan hingga kendaraan yang terseret keluar dari badan jalan akibat pengemudi yang kehilangan arah di tengah kepungan asap tebal.
Sebagai langkah antisipasi, aparat kepolisian dan dinas perhubungan menyiagakan personel di titik-titik krusial guna mengatur arus kendaraan serta memberikan imbauan secara langsung. Para pengendara diminta untuk menunda perjalanan jika tidak mendesak, atau setidaknya membatasi kecepatan maksimal dan wajib menyalakan lampu utama serta menggunakan masker standar kesehatan selama berkendara.
Pemerintah daerah bersama tim gabungan penanggulangan karhutla terus berupaya melakukan pemadaman darat dan pemantauan titik api di sekitar bahu jalan raya. Upaya ini diharapkan dapat mengurangi volume kepulan asap sehingga akses mobilitas warga dan aktivitas transportasi darat lintas Kalimantan dapat kembali berjalan aman dan normal.







