Tribunnews.com, JAKARTA, NASIONAL – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia kembali menimbulkan dampak serius. Kabut asap membuat kualitas udara memburuk sehingga kegiatan belajar tatap muka di sejumlah daerah harus dihentikan sementara demi melindungi kesehatan peserta didik dan tenaga pendidik.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mencatat sekitar 1,43 juta peserta didik dari 12.874 satuan pendidikan di 27 wilayah pada enam provinsi menjalankan pembelajaran dari rumah. Pemerintah menegaskan kebijakan tersebut bukan berarti siswa diliburkan, melainkan proses pembelajaran disesuaikan dengan kondisi kualitas udara.
Di sisi lain, data pemantauan Uni Eropa melalui Copernicus menunjukkan emisi karbon akibat kebakaran di Indonesia pada 1–7 September 2026 mencapai sekitar 19,7 juta ton, lebih dari sepertiga total emisi kebakaran global pada periode tersebut. Kondisi paling parah dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera.
Cuaca panas dan kering yang dipengaruhi fenomena El Niño disebut memperburuk kondisi kebakaran. Di Pontianak, Kalimantan Barat, kualitas udara bahkan sempat mencapai kategori berbahaya dengan indeks 394, sementara pemerintah terus meningkatkan upaya pemadaman dan penanganan titik api.
Pemerintah mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara berada pada kategori tidak sehat hingga berbahaya. Sementara itu, sekolah diminta mengikuti kondisi ISPU setempat dan mengutamakan keselamatan siswa sebelum kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka.
paudpedia.kemendikdasmen.go.id
**Sumber: Kemendikdasmen, AP News, 9–10 September 2026.**







